Sabtu, 23 Juli 2011

FanFic: Fireworks from Heaven (One Shoot FF)

"Tuhan, tolong ingatlah...walau dilahirkan berkali-kalipun aku hanya ingin bersama dengannya"

Hujan turun sangat deras di luar, aku memandang resah melalui jendela kamarku dan berpikir kapankah hujan ini akan berhenti atau setidaknya sedikit mereda? Apakah ia baik-baik saja di luar sana? Karena baru saja ia meneleponku dan mengatakan akan datang menemuiku.

BRAK!

Bunyi pintu kamarku yang menubruk dinding karena dibuka dengan kasar. Belum sempat aku memalingkan wajahku dari jendela untuk melihat siapa yang melakukannya, sudah kudengar suara seseorang yang sangat aku kenal.

"Ji-yeon-ah, tolong lemparkan handuk! Tiba-tiba saja hujan turun sangat deras"

Aku meraih handukku yang tersampir di kursi di dekat tempat tidurku dan melemparkannya padanya. Aku memandanginya yang sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handukku, kuperhatikan hampir seluruh tubuhnya basah kuyup. Air menetes-netes dari rambut dan bajunya, sehingga membuat beberapa genangan kecil air di lantai kamarku.

"Ada apa?" tanyanya saat sadar kalau dirinya sedang dipandangi olehku. Ia balas menatapku bingung karena aku terus saja diam dan memandanginya.

Sejak tiga tahun yang lalu, sikap Si-yoon terhadapku tidak pernah berubah sedikitpun.

"aduh!" aku memekik kaget karena seorang anak laki-laki menabrakku hingga membuatku terjatuh. Aku mengusap lututku yang terasa sakit.

"kau tidak apa-apa?" tanya seorang anak laki-laki lain yang datang menghampiriku dan membantuku berdiri. 

Aku hanya menggeleng pelan untuk memberitahunya bahwa aku tidak apa-apa. Sebenarnya, aku tidak akan terjatuh kalau saja tubuhku tidak selemah ini karena anak laki-laki tadi hanya mendorongku sedikit saja. Mungkin, kalau tubuhku lebih sehat dan lebih kuat, aku hanya akan terdorong sedikit. Ah, keadaanku ini memang sangat menyedihkan.
Anak laki-laki yang membantuku berdiri tadi kemudian menuntunku menuju kursi taman yang berada tidak jauh dari tempat kami berada.
Aku duduk, lalu hanya diam dan menunduk.
"masih sakit ya?" tanyanya sambil memandang lututku. Mungkin, ia mengira kalau aku sedang memandangi lututku. Aku hanya menggeleng, lagi. Tiba-tiba saja ia berlari pergi meninggalkanku sendiri. Hhh...Aku menghela napas dalam-dalam. Yah, memang tidak salah jika ia bosan bersamaku yang hanya diam membisu dari tadi. 
Kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir di pipiku, dan tak lama aku sudah terisak menangisi diriku sendiri yang sangat tidak beruntung. Sejak aku kecil, tidak ada seorangpun teman yang tahan berlama-lama bermain bersamaku, pada akhirnya mereka selalu meninggalkanku. 
Tubuhku menjadi sangat lemah disebabkan oleh penyakit yang aku idap, sehingga aku tidak bisa bermain seperti anak-anak normal yang lain. Sementara, anak-anak yang sehat bermain dengan ceria, aku hanya bisa duduk manis dan memandangi mereka.

"ini, untukmu!" sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku mendonggakkan kepala untuk melihatnya, ternyata anak laki-laki yang tadi menolongku. Aku melihat ia memegangi es krim, satu es krim ia sodorkan padaku.

"ambillah!" ujarnya lagi, karena aku masih saja memandanginya. Ia lalu duduk di sampingku dan menjilati es krimnya. "kamu tidak suka es krim?" tanyanya karena aku tidak juga memakan es krimku.

Aku menggeleng, lagi. Lalu mulai menjilati es krim strawberry yang ia berikan. Aku benar-benar tidak percaya, ternyata ia bukan meninggalkanku tapi membelikanku es krim.
Sejak saat itu, kami menjadi teman, Si-yoon selalu datang ke kamarku setiap sore dan kami selalu menghabiskan sore kami dengan menonton tivi atau hanya mengobrol dan berjalan-jalan di taman. Selalu begitu hingga tiba saatnya makan malam.
Rabu pagi ia datang ke kamarku dengan membawa es krim cokelat untukku. Si-yoon duduk di tempat tidurku, tapi tidak seperti biasanya, kali ini ia hanya diam. Aku tidak berani bertanya padanya, kupikir ia pasti sedang ada masalah. Jadi, hari itu kami menghabiskan es krim kami dalam diam yang membosankan.

Tak lama kemudian, seorang wanita cantik melongokkan kepalanya ke dalam kamarku dan tersenyum saat melihatku.
"Si-yoon-ah, ayo kita pulang! ayahmu sudah menunggu di bawah."
Si-yoon bangkit dari tempat tidur dan melangkah pelan menghampiri ibunya di pintu, ia masih diam. Aku memandangi punggungnya. Menunggu.

Ibunya memandangku lalu memandang Si-yoon dan berkata,"kau tidak mengucapkan salam perpisahan pada temanmu?". Kulihat Si-yoon menggeleng.
"aku..." ucapnya lirih kemudian berbalik menghadapku.
"walaupun aku harus keluar rumah sakit, aku akan tetap mengunjungi Ji-yeon setiap hari" lanjutnya riang dan menyengir padaku.

Ia melihat pada ibunya, "bolehkan, bu?" tanyanya. Kulihat ibunya tersenyum dan mengangguk. Beberapa saat kemudian, kamarku kembali sunyi. Lagi-lagi perasaan sakit ditinggalkan oleh teman kembali datang.

Tapi, ternyata Si-yoon menepati janjinya dan ia datang mengunjungiku setiap sore. Dan, kamipun menghabiskan sore seperti hari-hari sebelum ia keluar dari rumah sakit.

Aku menggeleng dan tersenyum. "tidak ada apa-apa kok! eh, kalau bajumu tidak dilepas nanti bisa masuk angin loh!.

Ia menatapku tajam. "jangan Ji-yeon, kita kan cuma teman!" Si-yoon memeletkan lidahnya padaku, aku mendengus kesal dan melempar bantalku padanya. Apa-apaan sih dia!?

Si-yoon berhasil menangkapnya dengan baik. "Eh, bukannya sekarang waktu pemeriksaanmu?" tanyanya tiba-tiba.

"Oh iya!" aku menepuk keningku pelan. Aku benar-benar lupa.

Kulihat Si-yoon merogoh-rogoh kantong celananya, "ah, untunglah aku masukkan dalam plastik. Nih!"

Aku mengambil benda yang ia berikan dan melihatnya bingung. "wah, foto!?"

Ia tersenyum. "temanku pergi ke festival kembang api beberapa hari yang lalu bersama pacarnya, lalu mereka memotret itu," jelasnya.

Aku memandangi kembang api dalam foto tersebut. "kembang api...." bisikku, Indahnya! seruku dalam hati.

"ayo kita pergi ke festival kembang api yang berikutnya!" ajaknya tiba-tiba.

Aku menatapnya heran. "eh?"

"aku juga belum pernah melihat festival kembang api..." sahutnya pelan sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.

Aku terdiam.

"tapi...aku tidak diizinkan untuk keluar," ujarku lirih sambil menundukkan kepala dan memilin-milin ujung selimutku.

"oh, begitu ya?" ujarnya lesu dan memandangiku. "baiklah, kalau kamu sembuh kita akan pergi melihat kembang api bersama untuk pertama kalinya," suaranya terdengar kembali bersemangat.

Dug...dug...!
Jantungku berdegup sangat kencang ketika mendengar ucapannya itu. Dan, aku merasa hangat pada kedua pipiku. Aku yakin warnanya sudah berubah jadi merah sekarang. Secara refleks aku memegangi kedua pipiku. Aduh, jangan sampai Si-yoon melihatnya.

"ka--kau pasti tidak akan sabar kalau harus menungguku sembuh. Lebih baik kau pergi dengan teman yang lain saja," ujarku pelan dan tetap menunduk.

"eh!? tidak mau, karena aku hanya mau melihatnya bersama denganmu!" serunya sambil terus menatapku. "kalau bukan denganmu, lebih baik aku tidak melihatnya selamanya, jadi aku akan menunggumu!" lanjutnya sambil menyilangkan kedua lengannya di dada.

Aku segera menghambur padanya dan memeluknya erat. Ia memberontak dan berkata, "Ji-yeon, bajuku masih basah nanti kamu masuk angin."

Aku menggeleng, "tidak apa-apa....meski harus masuk angin aku akan tetap memelukmu!" bisikku lirih sambil terus memeluknya. Si-yoon, maafkan aku karena tidak bisa pergi ke tempat-tempat yang kau inginkan, bahkan janji yang barusan pun pasti tidak akan pernah bisa aku tepati.

******

"Ji-yeon-ah!"

Aku menoleh ke arah suara yg memanggilku, "Si-yoon, hari ini pulang cepat ya?".

Si-yoon mengangguk cepat, "iya, enggak sampai siang" jawabnya acuh sambil merogoh-rogoh ke dalam tasnya. Aku memerhatikannya dengan perasaan bingung.

"aku ingin cepat-cepat memperlihatkan ini!", serunya ketika sudah menemukan benda yg dicarinya dari dalam tas dan menyodorkan benda itu padaku.

???

"Kyaaaa....lucunya!"


Si-yoon tersenyum melihat ekspresiku. "itu anak anjing milik temanku" jelasnya.
"uwaaaaa....gemas sekali!" Ugh! tidak mungkin....
"Ji-yeon-ah?"
BRUK!
"aku akan panggilkan dokter!" Si-yoon panik saat melihat aku ambruk ke lantai.

Aku segera memegang tangannya, "jangan! a-aku baik-baik saja!" jangan....kumohon...

"benarkah?" tanya Si-yoon, tatapannya penuh selidik. Ia tidak begitu percaya, kurasa.

"iya" jawabku berusaha setenang mungkin agar ia benar-benar yakin bahwa aku baik-baik saja, meskipun napasku masih terengah-engah. Si-yoon mengusap-usap lembut pundakku. Nyaman sekali.

Aku masih belum mengatakannya. Aku tidak ingin Si-yoon tahu kondisi tubuhku yg sebenarnya. 

Beberapa saat kemudian, kami sudah asik bercanda lagi.

"ah, dokter telat!" seru Si-yoon pada dokter laki-laki muda yg baru saja memasuki kamarku. Dokter muda itu hanya tersenyum menanggapi Si-yoon.

"Si-yoon-ah, tolong bantu kami untuk membujuk Ji-yeon. Kami sudah cukup lama menunggu" 

"tunggu—!" aku tidak mampu melanjutkan tiba-tiba saja ucapanku tertahan di tenggorokan.

"kalau tidak segera dioperasi, tubuhnya tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi..." Dokter No Min-woo tetap melanjutkan ucapannya tanpa sedikitpun menyadari raut wajahku yg sudah pucat pasi.


"dokter, hentikan!" akhirnya suaraku bisa keluar dengan lantang. Tapi, terlambat karena Si-yoon sudah menangkap bahwa ada sesuatu yg tidak beres.

"tidak bisa bertahan lebih lama..." ulang Si-yoon dengan suara lirih, "apa maksudnya itu?" ia menatap Dokter No penuh tanya.

"eh!? apakah Ji-yeon belum mengatakannya padamu?" kali ini gantian Dokter No yg terlihat bingung, ia kini beralih menatapku. 

"aku...." aku sungguh tak tahu harus berkata apa pada mereka, pada akhirnya aku hanya menundukkan kepalaku. Kurasakan air mataku sudah menggenang di pelupuk, aku sungguh tak sanggup melihat wajah Si-yoon karena sebentar lagi bulir-bulir air mata akan berjatuhan membasahi pipiku.

Dokter No pun melanjutkan penjelasannya pada Si-yoon yg masih menunggu, "operasi jantung itu kemungkinan untuk berhasil hanya 30 persen..." tanpa aku sadari aku sudah mencengkram selimutku kuat-kuat. "Tapi, kalau dibiarkan begitu saja...hidup Ji-yeon hanya akan tinggal satu tahun lagi" Dokter No menyelesaikan penjelasannya.

"kenapa....hanya satu tahun...." gumam Si-yoon nyaris tak terdengar.

"JANGAN BERCANDA!" Si-yoon berteriak marah padaku. Ini adalah kali pertama Si-yoon marah dan berteriak seperti itu padaku. Aku sekarang benar-benar shock dan hanya mampu mematung di atas tempat tidurku.

"KENAPA KAU HANYA DIAM SAJA!?"

Dokter No terlihat merasa bersalah ketika melihat reaksi Si-yoon seperti itu. "Si-yoon-ah, tenanglah...oleh karena itu, supaya Ji-yeon mau dioperasi kau harus membujuknya ya..." Si-yoon diam saja, ia tidak menanggapi sedikitpun permintaan Dokter No.

"kalau Ji-yeon hanya diam saja...bahkan rasio keberhasilan tidak akan meningkat meskipun hanya satu persen, kan?" suara Si-yoon sudah kembali tenang seperti biasa, hanya saja...wajahnya...kenapa raut wajahnya seperti itu?

Aku memang pernah berpikir untuk melakukan operasi itu. 
Aku menelan ludah sebelum membuka mulut, "kalau aku tidak dioperasi, waktu kita hanya tinggal satu tahun...", "tapi aku, ingin menghabiskan waktu bersamamu walau hanya sebentar" aku melanjutkan ucapanku yg sempat terhenti.

Wajah Si-yoon terlihat kembali mengeras, "tapi, itu hanya satu tahun!" suaranya pun kembali meninggi.

Emosiku jadi ikut terpancing mendengar ucapannya, "jadi kau mau bertaruh dengan keberhasilan yg hanya 30 persen itu!? bagaimana kalau aku mati?!! jangan asal bicara!!!" tidak mau....tidak mau....aku tidak mau berpisah dengan Si-yoon!

Si-yoon duduk disampingku dan memandangku lembut. "aku mengerti kalau keberhasilannya hanya 30 persen, sisanya yg 70 persen...akan aku pertaruhkan dengan hidupku".

Aku menatapnya tidak percaya. 

"aku menyukai Ji-yeon dengan seluruh hidupku" ujar Si-yoon serius sambil terus memandangiku dan membelai lembut rambutku. Tiba-tiba Si-yoon menyeringai lebar, "dengan begitu, kita akan terus bersama 100 persen!" aku terisak. Pabo!...Si-yoon-ah...nol, cheongmal paboya?

Malam ini Si-yoon menginap di rumah sakit. Kupandangi wajahnya yg damai saat sedang tertidur pulas. Rasanya hatiku menjadi sangat tenang.

"eh!?" secara tak sengaja aku melihat sebuah kamera digital di atas meja. Tiba-tiba saja terlintas sebuah ide di kepalaku.
Ketika aku sedang asik mengotak-atik kamera, kudengar suara Si-yoon. "ngg..." Si-yoon mengucek-ucek kedua matanya dengan tangannya, lalu menatapku heran.

"mau foto apa?" tanyanya sambil bertopang dagu.

"Si-yoon-ah!" jawabku singkat.

"____" 

Aku menatap matanya. "aku ingin fotonya Si-yoon-ah"
"kenapa!!!? aku baru aja bangung tidur nih!" Si-yoon terkejut mendengar pernyataanku barusan.

"kalau ada foto Si-yoon, mungkin akan mengurangi rasa sakitku kalau aku terkena serangan jantung lagi. Karena aku merasa sangat tenang jika berada disisi Si-yoon-ah, karena kamu kan tidak mungkin berada disisiku terus selama 24 jam. Masalah apapun pasti jadi bisa teratasi" jelasku mantap.

"____" 

"tombol merah itu untuk lampu blitz. Aku buka gordennya supaya terang ya?" Si-yoon menjadi bersemangat.

"ayo, bergaya yg bagus ya! ya, begitu...tahan ya...1...2...3!"

KLIK

"Si-yoon-ah, aku mau melakukan...operasi itu" ujarku perlahan.

Secara tak diduga, Si-yoon memelukku erat dan mencium bibirku lembut hingga membuat sekujur tubuhku dijalari rasa hangat. "iya" bisiknya kemudian ditelingaku.

Tuhan...aku sangat ingin bersamanya dimasa depanku!

****** 
 1 minggu kemudian

Sepertinya Si-yoon terlambat datang. Aku menunggunya dengan perasaan tak menentu, karena kalau sampai ia tidak datang tepat waktu...mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.
Seorang perawat masuk menghampiriku, "sekarang operasinya sedang disiapkan, jam tiga nanti aku akan datang menjemputmu ya, Ji-yeon-ah" aku mengangguk lemah.

Si-yoon...ada apa dengannya? sekarang sudah jam setengah tiga. Bagaimana ini....
"kumohon Si-yoon-ah...kumo"

BRAK!

"hhh...hhh...hhh...ma-sih...ke-bu-ru...untunglah!" Si-yoon sudah berdiri didepan pintu kamarku.

"hey! kenapa kamu kotor seperti itu, Si-yoon-ah?" aku bingung melihat baju dan tubuhnya yg kotor dengan tanah. 

Si-yoon menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, "hehehehe...tadi aku berlari tergesa-gesa dari kuil terus jatuh deh!"


"Si-yoo" aku berusaha meraih tangannya, namun dengan cepat ia menepisnya.


"eits! Jangan sentuh aku! Sebelum operasi Ji-yeon tidak boleh kotor! Nih!" Si-yoon menjauh dari jangkauan tanganku lalu memberikan jimat keberuntungan yg pastinya ia dapat dari kuil.


"kalau...aku sampai mati...aku akan tetap melihat Si-yoon" aku menatapnya lekat-lekat. Si-yoon hanya diam terpaku di tempatnya.


"sampai kapanpun kalau kau menangis, aku tidak akan pernah memaafkanmu ya!" lanjutku. Si-yoon tetap diam dan menatapku hampa.


"Ji-yeon-ah! persiapan operasinya sudah selesai!" perawat yg tadi, datang lagi untuk menjemputku.


"Ji-yeon-ah...dokter sudah menunggu loh!" perawat itu memanggilku ulang, karena aku masih tidak bergerak dari tempatku berdiri. Aku masih menunggu respon dari Si-yoon.


Akhirnya, Si-yoon tersenyum, "iya" suaranya mengalun begitu lembut ditelingaku, hingga rasanya aku tak mungkin akan melupakan suaranya saat ini.


"Ji-yeon-ah..."
"Ji-yeon-ah..."


Sayup-sayup aku mendengar namaku dipanggil oleh seseorang. Aku berusaha membuka kedua mataku yg terasa sangat berat.


"Ji-yeon-ah?"
Suara tersebut semakin jelas terdengar. Sepertinya itu suara mama.


"Omma..." aku memanggil ibuku dengan suara yg sangat lirih.


"Ji-yeon-ah!" ibuku memekik gembira begitu melihat aku membuka mataku.


"operasinya...."


"berhasil! operasinya berhasil dengan sangat baik, nak!" ibuku mengecup mesra keningku dan ia menitikkan air mata sebagai luapan rasa bahagia karena aku masih hidup.
Aku larut beberapa saat dalam suasana yg sangat mengharukan ini. Hingga akhirnya aku tersadar akan sesuatu atau lebih tepatnya "seseorang".


Yoon Si-yoon!


"Si-yoon-ah...Si-yoon-ah!!!" aku berteriak memanggil Si-yoon dengan rasa gembira yg membuncah di dadaku. Namun, Si-yoon tidak juga datang. Semua orang melihatku dengan tatapan yg tidak bisa aku pahami.


"Si-yoon....mana...?" aku bertanya pada mereka. Kulemparkan pandanganku secara bergantian pada ibu, Dokter No, dan perawat.


"dimana dia?"


"biar saya saja, bu" kudengar bisikan Dokter No pada ibu. Dokter No pun melangkah mendekatiku.


Kulihat Dokter No menarik napas perlahan sebelum akhirnya ia membuka mulut.
"Ji-yeon-ah...Si-yoon-ah...sewaktu dia menuju ke sini, dia tertabrak mobil di depan kuil...dan meninggal ditempat"


"ma-sih ke-bu-ru....untunglah...." 


"Hah!?" 
Tidak mungkin! kata-kata Si-yoon barusan masih terekam jelas diingatanku.


"tadikan, Si-yoon datang sebelum aku dioperasi dan dia memberiku ini" aku menunjukkan jimat keberuntungan yg tadi diberikan oleh Si-yoon kepadaku.


"dia tertabrak mobil di depan kuil..."


"Si-yoon..."
Tunggu dulu! Tuhan...
"kenapa?" tanyaku yg kutujukan pada diriku sendiri.
Kalau Si-yoon...tidak ada...
Aku tidak mau seperti ini...kenapa hanya aku yg hidup?!


"TIDAAAAAAAAKKK!!!" raunganku yg secara tiba-tiba membuat panik semua orang yg ada di kamarku dan tangisku pecah saat itu juga.


"Ji-yeon-ah...tenanglah..." bujuk Dokter No sambil memegangi kedua lenganku dan menatap wajahku.


"tidak! kenapa?! padahal operasiku berhasil...." aku tidak mengacuhkan bujukan Dokter No, karena mudah saja baginya untuk menyuruhku tenang padahal ia tidak sedikitpun merasakan apa yg aku rasa saat ini. Dadaku sangat sesak sehingga sulit untuk bernapas, rasanya seperti ada lubang besar dan sangat dalam di sana dan aku seolah tersedot kedalamnya.

Kenapa? Padahal akhirnya aku akan bisa bersamanya...


“Kalau tidak ada Si-yoon, sudah tidak ada artinya lagi aku hidup!!!” aku meraung lagi.

“Ji-yeon-ah…” kudengar suara lirih ibuku. Kulihat ibu menutup mulutnya dan mulai tersedu-sedu. Raut wajahnya sangat terluka. Aku berusaha untuk menghentikan tangisanku. Saat aku sudah lebih tenang, ibuku menghampiriku lalu duduk disampingku menggenggam erat tanganku seolah ingin menyalurkan sedikit kekuatan padaku.

Sewaktu aku hendak menyandarkan tubuhku pada kepala tempat tidur agar lebih rileks, kurasa aku menduduki suatu benda.

“Eh?” ini kan buku harianku bersama Si-yoon.
“Kotoran tanah…di buku ini…” aku berbicara pada diriku sendiri, sedangkan semua orang hanya diam memerhatikanku.

Aku segera membuka buku tersebut dan langsung membalik ke halaman paling terakhir. Eh? Foto ini…foto Si-yoon yang aku ambil sekitar satu minggu yang lalu ternyata sudah tercetak. Terdapat catatan di samping foto tersebut, “Hadiah terakhir supaya Ji-yeon tidak menangis”


 Sedangkan, di bawah foto tersebut terdapat catatan yang berbunyi:

Kepada Ji-yeon:
Sampai kapanpun kalau kamu menangis,
Aku tidak akan memaafkanmu!!!
(itu adalah kata-katamu lho!)


“Masalah seperti apapun pasti jadi bisa teratasi” ucapku mantap saat itu. Aku kembali teringat akan masa-masa ketika Si-yoon masih ada bersamaku. Kalimatnya yang romantis…hingga seringkali membuatku sulit bernapas dan wajahku bersemu merah.

“Begini-begini aku juga bisa romantis lho…”
“Aku akan menunggu Ji-yeon”
“Aku menyukai Ji-yeon dengan seluruh hidupku”

Kenangan demi kenangan bersama Si-yoon kini berdesakkan keluar, membuatku tak sanggup lagi untuk membendung air mata yang sudah menggenangi mataku sedari tadi. Tapi, aku berjanji ini adalah kali terakhir aku menangis.

******

~~Mezamashi ga naru mae ni okite toki wo tomeru omoida seruno wa mou nantonaku dakedo kimi no koto ichiokubun no kimi ni aeta kiseki nankamo itsu nomanika wasure chaukana wasure ta koto sae mo kitto wasure te shimauno... Heavenly days mune no poketto no heya kimi no kieta nukumori wo sagasu yo mou nidoto kimi wo omou koto wa nakutemo mada sukoshi atatakai ano hibi ni kagi wo kakete~~

Pagi hari ini sangat cerah, langit berwarna biru dan hembusan angin membelai lembut rambut dan pipiku. Lagu di iPod-ku memutarkan lagu "Heavenly days" yang sendu...sehingga membuatku kembali terkenang pada Si-yoon. Aku merasa hari-hariku bersama Si-yoon adalah Heavenly days seperti yang dinyanyikan oleh Aragaki Yui dalam lagu ini, yang tak akan mungkin bisa terulang lagi.

~~aruki tsukarete suwarikon de tohou ni kurete kanawa nai yume “unmei” toka futari nara ieta kaisatsuguchi de ienakatta iitakatta ‘arigatou’tte kotoba wa tabun ’sayonara’ yori mo kanashii kotoba ni omouno... heavenly days umaku waraeteta kana saigo no kisutsui kurueru kimi no te mo nigire nakatta namida sae ochi nakatta hitori pocchi ni nari imasara afure dasu yo...heavenly days mune no poketto no heya kimi no kieta nukumori wo sagasu yo mou nidoto kimi wo omou koto wa nakutemo te o nobashite mitemo koko ni wa mou inai yo atarashii hikari no shita aruki dasu yo...~~

“Ji-yeon-ah, selamat! Akhirnya kau keluar dari rumah sakit” suara Dokter No yang sudah sangat aku hapal, membuyarkan lamunanku tepat saat lagu Heavenly days ini berakhir.

“Dokter…” aku tersenyum.
“Terima kasih karena telah merawatku dengan baik selama ini” aku membungkukkan badanku padanya.

Dokter No menepuk pundakku, “Mulai sekarang kau bisa melakukan hal yang kau suka. Pertama-tama Ji-yeon-ah ingin melakukan apa?” tanya Dokter No.

Aku tersenyum lebar dan berkata, “Aku ingin menjadi seorang ahli kembang api!”.
Kulihat kening Dokter No mengernyit. Bingung, mungkin.

Aku yakin, Si-yoon pasti selalu melihatku dari surga. Jadi, aku yakin kalau Si-yoon juga pasti bisa melihat kembang api yang aku luncurkan ke surga.
Si-yoon-ah, tunggulah…aku pasti akan segera meluncurkan kembang api yang indah untukmu dan kita akan melihatnya bersama untuk yang pertama kalinya.



The End

 
*Entah kenapa pada bagian tengah cerita enter'a ngaco...jadi'a jarang-jarang banget gitu deh...padahal di edit post sih biasa aja...ah, entahlah...bingung saya...
yg penting masih bisa dibaca kan kawan? hehehe...


*karakter FF ini awal'a adalah Aragaki Yui, Miura Haruma, dan Kamenashi Kazuya, maka'a ost'a tuh Jepang,  adalah FF pertamaku yg sukses sampe ending...secara "based on" hihihihi...aku tuh udah punya banyak banget ide cerita tapi selalu buntu di pengembangan cerita. Tuh penggalan-penggalan cerita'a pada bersemayam di laptop, sayang mau di delete, yah siapa tau ntar dapet ide tengah'a ^_* Padahal beginning and ending story udah dapet...eh malah buntu di tengah-tengah, ugh! 



This story (FF) Based on Manga by Nagayama Ei, dengan sedikit pengembangan cerita.
Sumber Pics: bermacam sumber, udah lupa ambil dari mana aja...pokok'a tuh picu-picu not mine.

Tidak ada komentar: